Karin
melamun. Tak sadar ia mengendarai motornya menuju ke arah dermaga. Tiba-tiba ia
pun telah sampai. Ternyata di sana hujan, tapi Karin seolah tak peduli. Ia
memarkirkan motornya, melepas helmnya, dan melihat ke sekeliling. Kemudian, ia
berjalan, ia berhenti di tempat ia biasa menghabiskan waktu bersama seseorang.
Langit bocor
nih, haha.
Ia
menghela napas. Tak terasa air matanya tumpah membasahi pipinya yang sudah
basah karena hujan. Ya, ia sudah kuyup terguyur hujan yang semakin deras.
“Karin
bego! Udah tau hujan, nggak pulang, masihhh aja di sini. Ckck.”
“Rin..”
Seseorang di belakang memanggil Karin.
Tiba-tiba
Karin merinding. Sial, ini bukan Jumat
Kliwon, kan?
“Rin..”
suara itu kembali memanggil, tapi suaranya semakin terdengar seperti suara
laki-laki yang sedang menggigil kedinginan.
Wait, ini bukan
tanggal...
Karin
berbalik.
“Reno..”
Karin tersenyum,. Air matanya semakin menetes.
Laki-laki
itu tersenyum. Ia memeluk lengannya sendiri, menggigil.
“Udah
empat jam lho..”
“Haha,
kamu inget?”
“Inget
lah. 3 Maret 2013, jam 5 sore. Haha. Kamu lupa ya?” Reno masih menggigil.
Ya,
empat tahun yang lalu mereka terpisah. Harus terpisahkan oleh jarak karena Reno
harus ke Sydney karena ia mendapatkan beasiswa untuk studi di sana sementara
Karin meneruskan studinya di sebuah universitas negeri di Jogja. Empat tahun
yang lalu mereka membuat janji di tempat itu untuk bertemu kembali pada tanggal
3 Maret 2013, setelah mereka lulus dari studi mereka.
“Sorry..”
Ia mendekat dan memeluk Reno.
“Yang
penting aku nggak sia-sia kehujanan di sini. Haha.” Kata Reno sambil melepas
pelukan Karin dan merapikan rambut Karin.
Karin
tersenyum.
“Jadi..?”
tanya Reno sambil tersenyum.
“Hm?”
“Haha.”
Kemudian, mereka terdiam sejenak. Hujan mulai reda dan tersisa gerimis yang
masih menemani mereka. Dermaga semakin terang karena bulan kembali tampak.
“Jadi..?”
Reno bertanya kembali.
“Jadi...”
Kemudian, Karin tertawa. Pipinya memerah.
Reno
mengambil sesuatu dari kantong celananya, dua buah gelang berwarna ungu
kesukaan Karin. Yang satu bertuliskan ‘Rin’ dan lainnya bertuliskan ‘Ren’. Reno
mengenakan gelang bertuliskan ‘Ren’ pada pergelangan tangan Karin dan kemudian
memakai miliknya sendiri yang bertuliskan ‘Rin’.
Lagi,
mereka berjalan menyusuri dermaga sambil bergandengan, sama seperti empat tahun
yang lalu. Hanya saja, dengan perasaan bahagia yang menyelimuti hati mereka,
bukan lagi perasaan takut akan kehilangan.
***

0 komentar:
Post a Comment