Sunday, May 5, 2013

Laporan: Study Tour Jurusan Ilmu Komunikasi tanggal 2 Mei 2013 di Solo

Diposkan oleh Unknown di 7:54 PM

Adelia Octaviani
12/328718/SP/25093

Jurusan Ilmu Komunikasi UGM Study Tour di Kota Solo

Sebagai calon lulusan yang akan berkutat dengan media, mahasiswa-mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi juga memerlukan pengetahuan akan sejarah perkembangan media di Indonesia. Maka dari itu, pada hari Kamis, 2 Mei 2013 yang lalu, mahasiswa-mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi bersama dua orang asisten dosen pengampu mata kuliah Sejarah Ilmu Komunikasi dan Media mengunjungi Kota Solo dalam rangka study tour. Rombongan study tour mengunjungi dua objek destinasi, yaitu Lokananta dan Monumen Pers Nasional.

Lokananta: Jejak Industri Musik Indonesia
            Untuk memenuhi kebutuhan siaran radio, Angkasawan RRI bersama Direktur RRI di Jakarta, R. Maladi, dan kawan-kawan berencana untuk swadaya mendirikan pabrik piringan hitam. Pada tahun 1950, Kepala Studio RRI, R. Oetojo Soemowidjojo, dan Kepala Teknik Produksi RRI Surakarta, R. Ngabehi Soegoto Soerjodipoero berhasil melakukan ujicoba di Solo.
Lokananta yang terletak di Jalan Ahmad Yani 387 adalah pelopor dunia rekaman di Indonesia dan merupakan major label milik negara yang pertama yang berdiri sejak 29 Oktober 1956 tepat pukul 10.00 WIB dan diresmikan oleh Menteri Penerangan R.I. Soedibjo dengan nama abrik Piringan Hitam Lokananta, Jawatan Radio Kementerian Penerangan Republik Indonesia di Surakarta. Lokananta ini berfungsi untuk merekam dan memproduksi atau menggandakan piringan hitam untuk bahan siaran 27 studio RRI seluruh Indonesia sebagai transcription service (nonkomersial) dan berdasarkan Keputusan Menteri Penerangan RI mulai 1 April 1959 hasil piringan hitam Lokananta selain untuk kebutuhan transcription siaran RRI diperkenankan juga untuk dijual kepada umum (komersial).
Nama Lokananta sendiri diambil dari cerita legendaris pewayangan, yaitu nama seperangkat gamelan dari Suralaya. Konon, gamelan tersebut dapat berbunyi sendiri dan dapat menghasilkan suara yang sangat indah tanpa ditabuh. Nama Lokananta ini diusulkan oleh R. Maladi kepada pemerintah dan direstui oleh Presiden RI kala itu, Ir. Soekarno.
            Dalam upaya untuk menggali, membina, melestarikan, serta menyebarluaskan kesenian atau kebudayaan nasional, berdasarkan PP No. 215 tahun 1961 terhitung mulai 1 Januari 1960, Lokananta diubah statusnya menjadi perusahaan negara. Terhitung sejak tanggal 12 November 1971, Lokananta memperluas usahanya dengan memproduksi ponogram atau piringan hitam, pita suara kaset atau bentuk media rekaman lainnya. Sejak tahun 1972, Lokananta sudah tidak memproduksi piringan hitam dan ada beberapa rekaman yang ditransfer ke kaset dan bahkan, sekarang ditransfer ke CD.
            Berdasarkan Keputusan Presiden No. 13 tahun 1983, Lokananta sebagai salah satu BUMN Departemen Penerangan, diberi kepercayaan sebagai salah satu pusat penggandaan video kaset di samping TVRI dan PPFN. Kemudian, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 2001, Perusahaan Negara Lokananta telah dilikuidasi dan ditetapkan sebagai Penambahan Penyertaan Modal Perum PNRI. Maka, sejak tahun 2004, Perusahaan Negara Lokananta menjadi Perusahaan Umum PNRI Cabang Surakarta dengan cakupan tugas sebagai salah satu pusat multimedia, rekaman (kaset dan CD ROM), remastering, dan pengembangan percetakan serta jasa grafika, dan juga kegiatan dunia penyiaran atau broadcasting hingga sekarang.

Museum Pers Nasional
            Monumen Pers Nasional ini berlokasi di Jalan Gadjah Mada No. 59 Surakarta. Di tempat inilah pada tahun 1933 lahir sebuah stasiun radio pertama kaum pribumi bernama Soloche Radio Vereeniging (SRV) dalam rapat yang dipimpin oleh RM. Ir. Sarsito Mangunkusumo. Tak hanya itu, organisasi profesi kewartawanan pertama, PWI atau Persatuan Wartawan Indonesia, terbentuk di tempat ini pada tanggal 9 Februari 1946 yang ditetapkan sebagai hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia dan Hari Pers Nasional. Untuk memperingati hari bersejarah itu, PWI menetapkan bekas gedung ‘Sasana Soeka’ tersebut untuk dijadikan Monumen Pers Nasional. Semula, gedung ini dibangun pada tahun 1918 atas prakarsa KGPAA Sri Mangkunegoro VII dan diperuntukkan sebagai balai pertemuan. Gedung ini juga pernah menjadi Markas Besar Palang Merah Indonesia.
            Pada peringatan Dasawarsa PWI pada tanggal 9 Februari 1956, sebuah gagasan dicetuskan oleh B.M. Diah, S. Tahsin, Rosihan Anwar, dan lain-lain untuk mendirikan Yayasan Museum Pers Indonesia, yang akhirnya terwujud pada tanggal 22 Mei 1956. Pengurus museum ini pada saat itu adalah R.P. Hendro, Kadiono, Suwarno Projodikoro, Mr. Soelistyo, dan Soebekti, dengan modal utama saat itu adalah koleksi buku dan majalah milik Soedarjo Tjokrosisworo. Kemudian muncullah niat mendirikan Museum Pers Nasional dalam kongres Palembang pada tahun 1970.
Pada tanggal 9 Februari 1971, Menteri penerangan Budiardjo, menyatakan pendirian Museum Pers Nasional di Surakarta. Atas usul PWI Cabang Surakarta, nama Museum Pers Nasional diubah menjadi Monumen Pers Nasional pada kongres di Tretes tahun 1973. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepada Daerah Tingkat I Jawa Tengah Nomor HK.128/1977 tertanggal 31 Desember 1977, tanah dan gedung tersebut diserahkan kepada Panitia Pembangunan Monumen Pers Nasional di bawah Departemen Penerangan RI. Atas prakarsa Menteri Penerangan Ali Moertopo, yang mendapat dukungan dari Asosiasi Importir Film Kelompok Eropa-Amerika, terwujudlah gedung gedung Monumen Pers Nasional yang terdiri dari dua unit bangunan dua lantai, satu unit bangunan empat lantai, di samping penyempurnaan dan pemugaran gedung utama. Pada tanggal 9 Februari 1978, Presiden Soeharto meresmikan gedung societeit Sasana Soeka menjadi Monumen Pers Nasional dengan penandatanganan prasasti.
Kemudian, gedung ini dikelola oleh Yayasan Pengelola Sarana Pers Nasional yang berada di bawah Departemen Penerangan sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Penerangan Republik Indonesia Nomor 145/KEP/MENPEN/1981 dan bertugas mengatur dan mengorganisir fungsi dan pemeliharaan sarana-sarana Pers Nasional, termasuk gedung Dewan Pers di Jakarta dan Monumen Pers Nasional di Solo. Setelah Departemen Penerangan dilikuidasi, Monumen Pers Nasional menginduk ke Badan Informasi Komunikasi Nasional dan Monumen Pers Nasional ditetapkan menjadi Unit Pelaksana pada tahun 2002.
Teknis (UPT) Lembaga Informasi Nasional berdasarlan Keputusan Kepala Lembaga Informasi Nasional Nomor 37/SK.KA.LIN.2002 tanggal 19 Juni 2002 dan pada tahun 2005 berada di bawah Direktorat Jenderal Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi Departemen Komunikasi dan Informatika sesuai dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika RI Nomor 21/Per/M.Kominfo/4/2007 tanggal 30 April 2007. Kemudian, diputuskan bahwa Monumen Pers Nasional adalah Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Informasi dna Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Infromatika mulai tanggal 16 Maret 2001 melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 06/PER/M/KOMINFO/03/2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Monumen Pers Nasional.
Monumen Pers Nasional menyediakan beberapa layanan gratis bagi masyarakat. Yang pertama adalah Media Center, yang dapat dimanfaatkan pengunjung untuk mengakses internet secara gratis. Yang kedua adalah papan baca, yang memasang surat kabar Solopos, Suara Merdeka, dan Repbulika terbaru setiap harinya. Kemudian, ada juga perpustakaan. Selain itu, ada mobil layanan internet yang memberikan layanan internet gratis secara mobile. Monumen Pers Nasional ini juga bisa dijadikan objek riset dan kunjungan ilmiah, serta sering juga diadakan pameran tematik dan seminar di gedung ini.
Di gedung ini, terdapat 6 episode diorama perkembangan pers di Indonesia dan 10 patung perintis pers di Indonesia (R. Darmosoegito, R. Bakrie Soeriatmadja, Soetopo Wonobojo, R. M. Bintarti, Dr. Abdul Rivai, DR. GSSJ Ratulangie, RM. Tirto Adhi Soeryo, Dr. Danudirja Setiabudhi, Djamaludin Adinegoro, dan R. M. Soedarjo Tjokrosisworo). Selain itu, di geudng ini juga mengoleksi benda-benda pers bersejarah yang ada di Indonesia, seperti mesin ketik kuno, mesin ketik milik seorang perintis pers Indonesia Bakrie Soeriatmadja, majalah-majalah kuno hingga majalah-majalah yang terbit saat ini, microfilm sumbangan Adam Malik, baju wartawan perang Hendro Subroto, portable mixer bekas milik Radio Nirom, pemancar radio kambing (pemancar radio semasa perang gerilya clash ke-2 tahun 1948-1949), rekaman gerhana bulan dan peralatan terjun payung sastrawan dan wartawan TVRI Trisno Yuwono, kentongan Kyai Swara Gugah, kamera-kamera kuno, koleksi Bali Post, koleksi etnografi daerah Maluku, telepon antarstasiun sekitar tahun 1920-an, kamera wartawan Harian Bernas Udin, plat cetakan perdana koran Kedaulatan Rakyat.

***



Referensi:
Sekilas tentang Lokananta oleh Imam Muhadi, Mantan Staf Direktur Utama dan Humas Lokananta.
Monumen Pers Nasional oleh Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Friday, April 5, 2013

Sebuah Catatan Kecil "A Reminder"

Diposkan oleh Unknown di 9:32 AM
Tanda-tanda pemuda, memiliki:
-ketulusan sikap,
-semangat yang membara, dan
-mimpi-mimpi yang tinggi.

Seorang pemimpin memiliki tiga misi, yakni:
-Misi humanisasi: memanusiakan manusia, mengangkat harkat manusia, dan bertanggung jawab atas apa yang dikerjakannya.
-Misi liberasi: membebaskan manusia dari belenggu keterpurukan dan penindasan.
-Misi transdensi: kesadaran ketuhanan yang mampu menggerakan hati dan ikhlas terhadap apa yang telah dilakukan.


oleh PSDM, beberapa waktu yang lalu.

Sunday, February 3, 2013

Foto: A Cute Couple

Diposkan oleh Unknown di 9:54 PM
Ini namanya burung apaan ya? -_-a

At Omah Tembi Homestay. January 23rd 2013.
Photo: Adelia Octaviani.

Foto: Thailand Delegations of Jossea 2013

Diposkan oleh Unknown di 3:42 PM 0 komentar




Thailand Delegations of Jossea 2013. At Brayut Tourism Village. January 23rd 2013.
Photo: Adelia Octaviani.

Foto: A Clock

Diposkan oleh Unknown di 3:11 PM 0 komentar
Dulu aku pengen banget punya jam kayak gini buat dipasang di kamar.
Hehe, aneh ya :3















At Indraloka Homestay, January 21st 2013.
Photo: Adelia Octaviani

Bukan Mauku, Maumu, atau Mau Kita

Diposkan oleh Unknown di 3:01 PM
Bukan mauku

Foto: A Dream Came True

Diposkan oleh Unknown di 2:45 PM 0 komentar

23 Januari 2013 pukul 05.54 WIB
Foto: Adelia Octaviani

Monday, December 17, 2012

Menunggu Kamu

Diposkan oleh Unknown di 12:40 AM
di antara sunyi dan sendiri
 

delivian.is.me Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea

Cute Polka Dotted Pink Bow Tie Ribbon